[VIDEO] Nenek Ini Membawa Cucunya Membeli Baju. Namun Cucunya Tak Kunjung Keluar dari Fitting Room. 20 Minit Kemudian, Neneknya Meraung Ketakutan Apabila Melihat Cucunya Tergantung.

Sharing is caring!

Selalu awasi anak-anak Anda saat sedang berbelanja di kedai baju. Karena hal-hal berbahaya yang tak terduga bisa saja terjadi bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Gambar Hiasan
Kejadian nahas menimpa seorang balita yang maut setelah jaketnya tersangkut pada gantungan baju yang ada di fitting room kedai baju. Kejadian ini terjadi di kedai Again Thrift and More di Mankato, Minnesota.

Loading...

Mautnya kanak-kanak usia 4 tahun bernama Ryu Pena ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Apalagi saat itu sebenarnya ia sedang bersama neneknya yang sibuk memilih baju.

Ibu Ryu sendiri, Denyce Gonzalez, tidak menyalahkan sang nenek. Karena ia mengakui bahwa anaknya sangat lincah dan memiliki hasrat menjelajah yang tinggi sehingga wajar jika ia terlepas dari pandangan neneknya yang sudah tua.

「Ini adalah kejadian yang terjadi karena ia memang seorang anak yang suka menjelajahi tempat apapun yang ia datangi,」 kata ibunya lirih kepada CNN.

Saat kejadian berlangsung, Ryu memakai jaket hoody dengan tali di leher dan penutup kepala. Kepala keamanan di Mankato, Jeremy Clifton menyatakan bahwa saat masuk ke fitting room sendirian, Ryu memanjat ke atas dan jaketnya tersangkut kaitan pakaian yang biasa digunakan orang untuk menggantung baju mereka.

Loading...

「Kemungkinan ia gagal membebaskan dirinya sendiri. Terutama, karena kakinya yang masih pendek tidak bisa memijak lantai. Akhirnya ia tercekik jaketnya sendiri.」 ujar Clifton yang berusaha menjelaskan pada media penyebab balita maut tersebut.

Saat sang nenek sadar bahwa cucunya lepas dari pandangan, ia segera mancarinya ke semua tempat. Langkahnya membawa ia ke fitting room.

Betapa terkejutnya ia ketika melihat tubuh cucunya tergantung di fitting room dalam keadaan sudah tak bernyawa. Ia segera memanggil petugas keamanan dan pegawai kedai untuk membebaskan cucunya dari gantungan baju yang menjerat jaketnya.

Pegawai kedai mengaku tidak mengetahui jika ada anak kecil yang berada di fitting room. Apalagi, Ryu memang mengunci fitting room tersebut saat bermain di sana.

Loading...

Untuk membiayai pemakamannya, tante Ryu, Jessica Cuevas membuat sebuah kampanye penggalangan dana di laman GoFundMe. Dana yang dibutuhkan pada masa awal kampanye adalah USD 11.000. Hingga berita ini dituliskan, dana yang terkumpul sudah mencapai USD 19.000 atau sekitar RM80,000.

Kejadian ini menjadi pukulan sangat berat untuk keluarga Ryu, sekaligus peringatan kepada orangtua lainnya agar lebih memperhatikan anaknya saat berada di tempat manapun.

Hasrat anak untuk berpetualang di manapun dia berada memang menandakan bahwa dia adalah anak yang cerdas. Namun itu juga berarti bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman untuknya.

Agar kejadian balita maut seperti kasus Ryu tidak terulang lagi, ada baiknya kita selalu mengawasi anak, terutama di tempat-tempat umum. Tak lupa, kita juga harus mengajarinya untuk menjaga dirinya sendiri saat berada di keramaian.

sumber: BH

 

 

Orang Kaya Ini Memberikan Duit 2 Ribu Kepada Seorang Pengemis Jalanan! Kerana Rasakan Dirinya Ditipu, Dia Pun Mencari Rumahnya, Namun Dia Terkejut Dengan Apa Yang Dilihat..

 

Encik Razak tahun ini berusia 50 tahun, ia memiliki sebuah perusahaan konstruksi yang sangat besar. Sebagai seorang jutawan, banyak orang yang mengaguminya.

Namun ada satu hal yang membuat ia sangat khawatir, putranya yang berumur 22 tahun tidak mau belajar dan tidak memiliki keahlian apa-apa. Kerjaannya seharian hanya pergi berlibur bersama teman-temannya. Setengah tahun yang lalu dia ditangkap oleh polisi dan dimasukkan ke rehabilitasi karena ditemukan memakai narkoba dalam sebuah pesta malam.

Minggu lalu ia baru saja pulang ke rumah, dan langsung meminta uang kepada ayahnya untuk pergi bersenang-senang. Encik Razak sangat marah dan menghentikan semua akses kartu kreditnya, ia mengurungnya dalam rumah.

Rahim sangat tidak senang seraya terus melototi muka ayahnya, dan dengan nada tinggi Rahim berkata, “saya akan menjual kereta yang ada di rumah, jika kamu tidak memberikan saya uang”. Encik Razak menjawab putranya, “minggu depan ikut ayah bersama-sama ke kampung, setelah itu ayah akan menuruti seluruh permintaanmu. Apa yang kamu mau akan kuberikan.”

Rahim pun tersenyum sambil menyetujui perkataan ayahnya.

Seminggu setelahnya, Encik Razak membawa putranya ke kampung, dengan menaiki kereta api. Rahim sangat heran, mengapa tidak membawa kereta malah naik kereta api. Ia teringat kata ayahnya beberapa hari lalu yang menyuruhnya untuk membawa baju yang sederhana saja.

Encik Razak melihat wajah putranya, dan mengingat masa-masa saat ia masih umur segitu. Ia sudah harus pergi ke Surabaya sendiri untuk mencari kerja.

Bekerja di sebuah perusahaan mesin setiap hari selama 15 jam dan sering dimarahi atasan. Setelah bekerja selama 3 tahun, barulah ia menjadi karyawan tetap. Dalam perjalanannya Encik Razak selalu melihat keluar jendela mengingat masa mudanya yang begitu pahit, berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi anaknya kelak namun tidak menyangka masa muda anaknya yang sekarang malah seperti ini.

Selain berlibur-berliburan, juga pergi berpesta bersama dengan teman-temannya. Setelah beberapa saat Rahim memberi tahu kepada ayahnya bahwa ia lapar. Encik Razak mengeluarkan roti dari tasnya dan menaruhnya di depan anaknya.

Melihat makanan seperti itu, Rahim pun tidak menyentuh sedikitpun. Encik Razak hanya tersenyum tanpa berkata apapun, sambil tetap melihat ke arah jendela, ia memakan rotinya sendiri.

Matahari pun mulai terbenam Rahim dibangunkan oleh rasa laparnya. Ia melihat seorang buruh yang duduk diseberangnya sedang asyik makan mie instan.

Buruh tersebut pun datang menghampiri Rahim dan menawarkan mie instannya, sambil menatap bajunya yang sangat lusuh tersebut, Rahim langsung memalingkan wajahnya. Melihat kelakuan Rahim seperti ini, Encik Razak pun menggelengkan kepalanya.

Sekali lagi, ia mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikannya kepada Rahim. Rahim langsung mengambil roti tersebut dan memakannya, begitu pula dengan roti-roti setelahnya.

Saat kereta berhenti dan sampai di tujuan, Encik Razak memanggil Rahim untuk turun. Tidak jauh dari stasiun kereta tersebut, mereka melihat banyak orang yang sedang berkerumun, mereka berdua pun pergi dan melihat apa yang ada di sana.

Ternyata beberapa kerumunan orang itu sedang mengelilingi seorang wanita berusia 30 tahunan yang sedang menggendong anaknya yang cacat dan tidak memiliki tangan. Wanita itu terus menundukkan kepalanya, tanpa melihat kerumunan di sekitarnya.

Di depannya ada sebuah kotak yang berisikan beberapa uang receh. Di atasnya dituliskan ‘untuk anak yang cacat’, lalu disampingnya tertera KTP dan nomor telepon ibu tersebut.

Melihat wanita ini, Rahim langsung mengatakan kepada ayahnya bahwa wanita ini pastilah penipu. Banyak sekali yang menjadi pengemis di dekat Stasiun Kereta Api, seolah-olah tidak memiliki kaki dan tidak memiliki tangan. Encik Razak menatap dengan sangat lama KTP yang ada di samping kotak tersebut, anak yang cacat itu pun melihat kearahnya.

Ia menjadi teringat ketika ia masih kecil, keluarga mereka sangat miskin dan tidak ada apa-apa. Suatu hari ada seorang pengemis yang mengetuk rumah mereka, ibunya sambil menangis memberikan semangkuk penuh nasi dan sup kepada pengemis tersebut.

Encik Razak mengelus ngelus kepala anak tersebut, ia mengeluarkan uang 10.000 yuan dari dompetnya dan memasukkannya ke dalam kotak ada di depan mereka.

Wanita itu tetap tidak mengadakan wajahnya ke  Encik Razak. Satu tangan ia gunakan untuk menggendong anaknya, satu tangannya lagi ia gunakan untuk memegang kakinya Encik Razak. Encik Razak mengangkat tangan wanita tersebut dan berkata “berikanlah makanan makanan yang enak kepada anakmu.”

Lalu ia meninggalkan tempat tersebut.

Rahim berkata kepada ayahnya, “Ayah kamu pasti sudah tertipu. Malam ini ia kan pulang dan berlibur-berlibur bersama dengan teman-temannya, sambil mengatakan ‘kita sudah untung 10,000 ringgit’.” Encik Razak mengatakan kepada anaknya kalau ibu tersebut terlihat tidak terlihat seperti penipu.

Sesampainya di kampung, selama 5 hari mereka hidup sangat sederhana setiap hari hanya makan sayur asin dan roti tawar. Pada hari yang keenam saat mereka kembali ke stasiun kereta api dan akan pulang, mereka melihat ibu yang sama sedang menggendong seorang anak perempuan yang berbeda.

Rahim langsung berkata kepada ayahnya, “lihatkan! Apa yang aku bilang! Wanita ini tidak saja seorang penipu, dia juga seorang pedagang manusia.”.  Rahim langsung mengeluarkan HP nya hendak melaporkan pada polisi. Namun Encik Razak menahan tangannya dan berkata kepada anaknya, kita tunggu sampai malam, lalu kita ikuti mereka saat mereka pulang.

Saat hari Mulai gelap wanita ini bersiap-siap untuk pulang. Encik Razak dan anaknya mengikutinya dari belakang. Wanita ini sampai ke sebuah rumah yang sangat sederhana, dan terlihat seperti sebuah Panti Asuhan tua.

Ternyata setelah melihat kedalam, Encik Razak dan Rahim tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Ada sekitar 6 sampai 7 anak kecil penyandang cacat yang berada di sana. Wanita ini dengan senyuman membantu anak-anak tersebut.

Membantu anak-anak yang tidak bisa bangun dari kasurnya untuk buang air besar, melap badan mereka dan menggantikan popok. Sungguh sebuah muka yang penuh suka cita, sama sekali berbeda dengan apa yang ia kerjakan di siang hari. Mata Encik Razak mulai meneteskan air mata, melihat Putra disampingnya Rahim pun yang diam diam melap air matanya.

Mereka pun keluar dari tempat tersebut dan memilih untuk menginap di daerah tersebut satu malam lagi. Esok harinya mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Setelah hari mulai gelap, wanita yang menggendong anaknya tersebut kembali ke panti asuhan. Ia melihat ada sebuah koper yang besar, dan tertempel sebuah surat diatasnya. Anak yang paling besar di Panti Asuhan tersebut mengatakan bahwa siang tadi ada dua orang yang datang kemari dan mengatakan bahwa koper ini untuk Mama.

Mereka berpesan agar Mama sendiri yang membukanya saat pulang. Diatas suratnya tertulis ‘untuk mama yang baik hati’, membaca surat ini ia pun menangis.

Wanita ini bernama Hasmah, ia menikah 5 tahun lalu dan mengadopsi seorang anak cacat. Suaminya tidak tahan dan menceraikannya. Setelah itu ia terus menurus mengadopsi 6 sampai 7 anak anak cacat yang tidak diterima oleh orang tuanya, namun karena beban yang terlalu besar yang harus ditanggung, pada saat siang hari ia hanya bisa pergi ke stasiun kereta api untuk menjadi pengemis.

Saat malam ia pulang untuk menjaga anak-anaknya. Hasmah melakukan hal ini sudah hampir 5 tahun. Saat mebuka isi kopernya, ia mendapati ada uang 8000 ringgit, ia meluk semua anak anaknya sambil menangis.

Rahim pulang ke rumahnya, ia putus kontak dengan teman-teman peberliburnya, dann dengan serius membantu ayahnya menjalankan perusahaan. Ia juga sering mengikuti kegiatan kegiatan Amal.

Sumber: BH

Sharing is caring!

Loading...